CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Sunday, June 12, 2011

Ingat Kematian



Segala puji bagi Allah yang telah memberi kita nikmat kehidupan ini. Sesungguhnya kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad s.a.w adalah rasulNya. Salawat dan salam bagi beliau dan keluarganya

Setiap orang tahu bahwa ia akan mati, tak ada seorangpun yang mengingkarinya. Tapi kenyataannya sedikit sekali yang mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian. Sebagian besar manusia bahkan berusaha melupakannya dengan berbagai hiburan dan kegiatan. Kematian menjadi misteri yang ditakuti. Padahal dengan perjalanan waktu, saat kematian yang tidak mungkin kita hindari ini hanya akan semakin dekat saja. Padahal bagi mereka yang sadar, dan berniat untuk menghadapinya, sesungguhnya ingat akan kematian merupakan pendorong yang sangat kuat untuk mencapai kehidupan yang sukses.

Lebih dari 160 kali kata kematian disebut dalam al Qur'an. Mengapa peristiwa ini mendapat banyak perhatian dalam kitab Allah ini? Untuk menjawab pertanyaan ini mari kita perhatikan beberapa ayat yang mengandung kata kematian tersebut.

" Setiap jiwa akan merasakan kematian" (ali Imran 185)

Ayat ini mengungkapkan fakta kematian sebagai suatu kenyataan. Tanpa menutupi ataupun menakuti, tetapi membicarakannya sebagai suatu hal yang pasti terjadi, yang pasti akan kita alami. Pernyataan tersebut dilanjutkan dengan uraian mengenai apa yang akan kita hadapi setelah mati:

"Dan sesungguhnya hanya pada hari kiamat sajalah akan disempurnakan pahalamu. Barangsiapa yang diselamatkan dari api neraka dan dimasukkan kedalam syurga sesungguhnya dialah yang benar benar beruntung. Sesungguhnya kehidupan didunia ini hanyalah kesenangan yang memperdayakan" (Ali Imran 185)

Dengan nada keterbukaan yang sama, ayat diatas menyajikan beberapa prinsip dasar Islam. Bahwa kematian bukanlah akhir dari riwayat kita. Masih ada kehidupan setelah mati, suatu kehidupan yang justru jauh lebih panjang dari hidup yang sekarang ini. Juga disebutkan dalam ayat ini apa ukuran keberhasilan yang sebenarnya. Sukses yang hakiki adalah selamat dari api neraka dan masuk kedalam surga. Sukses bukanlah keberhasilan meraih suatu gelar, sukses juga bukan berarti pangkat, ataupun kekayaan, semua sukses dunia itu hanya seperti fata morgana dibandingkan kenyataan yang akan kita alami di akhirat.

Pesan yang sama juga kita dapati dalam ayat berikut (Al Anbiya 35):

"Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan kami akan uji engkau dengan kejahatan dan kebaikan. Hanya kepada kamilah engkau akan kembali"

Tidak ada kesamaran ataupun keraguan dalam pesan ini. Bahwa hidup ini sementara, hidup hanyalah suatu masa percobaan, suatu ujian saja. Setiap orang mendapatkan ujiannya masing-masing. Ada yang diuji dengan musibah kemalangan ada juga yang diuji dengan keberuntungan didunia ini. Tapi pada akhirnya semua kita tanpa kecuali akan dinilai dan diberi ganjaran kehidupan akhirat yang sesuai dengan hasil ujian ini.

Kisah lengkap kehidupan kita secara ringkas diceritakan dalam al Quran sebagai berikut:

"Sesungguhnya telah kami ciptakan manusia dari tanah, Kemudian dari setetes mani yang disimpan dalam tempat yang kokoh (rahim) Lalu dari setetes mani itu Kami jadikan ia segumpal darah, Lalu dari segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, Lalu dari segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang Lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain. Maha suci Allah, Pencipta yang paling baik. Kemudian sesudah itu kamu semua akan mati kemudian sesungguhnya pada hari kiamat engkau akan dibangkitkan lagi" (Al Mu'minun 23:12-16)

Hanya yang Maha Pencipta yang dapat memaparkan riwayat kita selengkap itu. Dari uraian itu nampak bahwa apa yang kita jalani didunia ini hanya merupakan sebagian saja dari seluruh riwayat hidup kita. Jauh lebih panjang lagi masa yang akan kita alami di akhirat nanti. Perlu diingat juga bahwa apa yang kita lakukan dalam masa hidup yang pendek didunia ini akan menentukan kehidupan kita di akhirat nanti. Inilah fungsi sebenarnya dari kehidupan dunia, sebagai ladang yang hasilnya akan kita nikmati diakhirat nanti.

Dalam bagian lain, ditegaskan pula bahwa tidak ada jalan keluar yang dapat menghindarkan kita dari kematian. Surat an Nisa ayat 78 memaparkan: "Dimanapun engkau berada, kematian akan menjumpaimu. Walaupun engkau berada didalam menara yang kokoh dan tinggi sekalipun."

Umur panjang tidak menghindarkan kita dari kematian. Tidak juga teman baik, fasilitas kesehatan dan dokter ahli, uang maupun pangkat. Semua itu tidak dapat menunda saat kematian kita. Perhatikan ayat berikut ini yang menggambarkan ketidak berdayaan manusia ketika saat kematian telah tiba:

"Maka mengapa ketika nyawa telah mencapai kerongkongan, dan kamu menyaksikannya, sedangkan kami lebih dekat kepadanya., tapi kamu tidak melihat hal ini; mengapa kamu - jika kamu memang merasa tidak dalam kekuasaan kami - tidak memanggil kembali nyawa itu, jika kamu memang orang-orang yang benar?" (al-Waqia 56:83-87)

Demikianlah kematian itu, semua kita akan mengalaminya pada saat yang sudah dipastikan. Tak dapat ditunda walau hanya satu detik pun. Tak ada yang dapat menghentikannya. Lalu bagaimana kita harus mensikapinya? Dalam al Quran diberikan petunjuk untuk menghadapi kematian:

"Wahai orang-orang beriman, takutlah pada Allah dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam" (3:102)

Islam, inilah satu satunya yang dapat menyelamatkan kita dalam menempuh proses kematian. Allah memerintahkan kita agar tidak menjumpai kematian kecuali kita dalam keadaan muslim. Kematian tidak dapat kita tolak, dan kita tidak tahu bila kematian itu akan datang menjumpai kita. Berarti setiap saat kita harus selalu dalam keadaan muslim. Kita harus menjaga agar kita tetap muslim dalam bekerja, muslim ketika dirumah, baik waktu sendirian maupun didepan umum. Muslim waktu senang, dan tetap muslim pula waktu ditimpa kesusahan. Pada setiap saat dan situasi hendaknya kita selallu dalam keadaan menyerah (Islam) kepada Allah, sehingga kalau sewaktu waktu kematian itu datang kita sudah siap dan dapat menghadapinya dengan tenang. Janganlah kita seperti orang yang digambarkan Allah dalam ayat berikut:

Wahai orang yang beriman janganlah kekayaan dan anak anakmu mengalihkan perhatianmu dari mengingat Allah, agar engkau tidak menjadi orang yang merugi. Dan nafkahkan sebagian dari hata yang kamiberikan kepadamu sebelum datangnya kematian, sehingga engkau tidak berkata " Ya Tuhan, berikan kami tanguh beberapa saat. Niscaya aku akan bersedekah dan berbuat baik". Tapi tidak pada satu jiwapun Allah memberi tangguh ketika saatnya sudah tiba. Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang engkau perbuat. (al Munafiqun 63: 9-11)

Jadi ketika kematian tiba, tidak akan ada lagi kesempatan kedua ataupun tambahan waktu. Kalau kita ingin berbuat baik, lakukanlah sebelum kematian itu tiba. Tak ada yang diberi tangguh, tak ada perkecualian.

Ketika kematian itu tiba pada salah seorang dari mereka, ia akan berkata. "Ya Tuhanku kembalikanlah aku, kembalikanlah aku, niscaya aku akan berbuat kebaikan yang selama ini aku lupakan." Tidak, tidak mungkin lagi. .... (Mu'minun 23:99-100)

Selalu ingat akan mati, memaksa kita sadar akan terbatasnya waktu kita didunia dan membuat kita selalu ingat akan tugas kita, apa yang seharusnya kita perbuat didunia. Banyak hal baik yang timbul dari ingatan akan mati. Karena itulah Islam mengajarkan agar kita sering melakukan ziarah kubur, Islam juga menganjurkan kita untuk mengiring mayat ke kuburan, membantu memandikan, dll. Disamping itu dengan membaca al Quran setiap hari, kita pun akan selalu diingatkan akan kematian ini. Kesdaran dan ingatan akan mati ini akan memberi kesan yang sangat dalam bagi kita: Tak ada lagi rasa keterikatan dan rasa ingin memiliki dunia. Tak ada lagi rasa takut untuk menyampaikan kebenaran. Hilang pula rasa cemburu dan iri hati yang biasa muncul ketika melihat orang yang lebih beruntung dari kita. Dendam dan sakit hati dengan mudah akan berganti dengan maaf yang tulus ikhlas. Dalam sebuah kisah, Rasulullah s.a.w mengatakan bahwa seseorang sahabat akan masuk surga hanya karena sahabat ini selalu memaafkan semua orang setiap malam sebelum dia tidur. Hilang pula penyakit "wahn" (cinta dunia dan takut mati) yang membuat ummat Islam ini seperti buih dilautan, tak berarti dan tak berbobot. Dalam bulan Ramadan yang mulia ini, tanamkanlah kesadaran bahwa mungkin ini adalah Ramadan kita yang terakhir. Raihlah sebanyak-banyak pahala dari bulan yang penuh berkah ini. Di malam-malamnya yang hening, bayangkanlah perjuangan saudara-saudara kita di Palestina, di Ambon, Aceh, Kashmir dan segala penjuru dunia. Mohonkanlah ampunan bagi mereka yang masih hidup dan yang sudah meninggal dunia. Kita sadar giliran kita akan segera tiba. Semoga Allah memberi kita kesempatan untuk menemui kematian dengan sebaik baik cara yang diridlaiNya, syuhada di jalanNya. Wa astagfirullahi walakum.

Wassalamu alaikum.

0 Orang Terkentut:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

National Geographic POD